Minggu, 13 Maret 2011

Jangan Kirimi Aku Bunga

Aku mendapat bunga hari ini.
Meski hari ini bukan hari istimewa dan bukan hari ulang tahunku.
Semalam untuk pertama kalinya kami bertengkar.
Dan ia melontarkan kata-kata menyakitkan.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena hari ini ia mengirimi aku bunga.

Aku mendapat bunga hari ini.
Ini bukan ulang tahun perkawinan kami atau hari istimewa kami.
Semalam ia menghempaskan aku ke dinding dan mulai mencekikku.
Aku bangun dengan memar dan rasa sakit sekujur tubuhku.
Aku tahu ia menyesali perbuatannya karena ia mengirim bunga padaku hari ini.

Aku mendapat bunga hari ini.
Padahal hari ini bukanlah hari Ibu atau hari istimewa lain.
Semalam ia memukul aku lagi, lebih keras dibanding waktu-waktu yang lalu.
Aku takut padanya tetapi aku takut meningggalkannya.
Aku tidak punya uang.
Lalu bagaimana aku bisa menghidupi anak-anakku?
Namun, aku tahu ia menyesali perbuatannya semalam, karena hari ini ia kembali mengirimi aku bunga.

Ada bunga untukku hari ini.
Hari ini adalah hari istimewa...
inilah hari pemakamanku.
Ia menganiayaku sampai mati tadi malam.
Kalau saja aku punya cukup keberanian dan kekuatan untuk meninggalkannya, aku tidak akan mendapat bunga lagi hari ini...

22122009

Kesenangan dan kebahagiaaan yang kau berikan tak mampu membuatku untuk melupakanmu dalam sekejap...
Aku tak mengerti entah kenapa aku seperti ini...
Kenapa aku tak bisa untuk melupakanmu???
Mengapa semua ini begitu cepat pergi???
Di saat aku butuh waktu lama mendapatkanmu...

Semuanya datang dengan perjuangan dan hilang dengan tak mempunyai arti apa-apa...
Kenapa aku harus mengalami hal seperti ini???
Di saat semuanya butuh proses untuk perubahan, di saat itu juga aku belum mendapatkan proses itu...
Kebodohan apa yang telah aku perbuat???
Apakah ini semua mutlak kesalahanku???

Oh, seribu burung kertas...
Apakah kau tak mengabarkan pesanku pada dia???
Katakan padanya bahwa aku salah dalam berbuat...
Bahwa aku salah dalam berpikir...
Dan bahwa aku salah untuk menyia-nyiakannya...
Semuanya terasa hampa di saat dia tak di sampingku...
Apakah aku kehilangan dia atau aku hanya takut dia tak lagi untukku???

Oh hati yang suci...
Tak ada lagi kesucian selain hati...
Aku ingin pesan manis darimu...
Katakanlah padaku, apakah dia yang terbaik di jalanku???
Katakan juga padaku, apakah dia yang selama ini aku tunggu???
Bisikan juga padaku, apa benar dia juga mencintaiku seperti aku mencintainya???
Bisikan juga padaku, apa benar dia juga kehilangan seperti aku kehilangan dia???
Aku tak tahu lagi apa yang mesti di perbuat...

Andaikan kau tahu bahwa kaulah kebahagiaan dalam hidupku, mungkin tidak begini jadinya...
Andaikan saja kau tahu bahwa membahagiakanmu adalah kebahagiaan terindah dalam hidupku, mungkin tak akan begini juga akhirnya...
Tapi, sayangnya kau tak mengetahui itu semua...
Kau tak mamahami juga apa yang kurasakan saat ini...




Semua ku sadari setelah terjadi karena itulah penyesalan...
Selalu saja datang di akhir...
Tapi, aku yakin itu semua belum berakhir…
Aku percaya ini adalah awal dari sebuah cinta tulus dan ikhlas...
Karena kesucian cintaku akan teruji dan kesabarannyapun akan di ukur oleh sang waktu...

Bagaimana aku bisa menjalani semua???
Di saat aku butuh semangat dari dia...
Bagaimana aku bisa tegar manghadapi hidup???
Di saat aku mau dia tempat bersandarku...

Aku merasa sendiri di tengah dunia yang penuh sesak ini...
Aku sendiri di keramaian...
Aku bagai raga tak bernyawa...
Karena kau tak pernah mengahampiri lagi ruang hidupku...

Ketakutanku hanya satu, kehilanganmu...
Kecemasanku hanya satu, melupakanmu...
Karena aku tak mampu melakukan itu semua....
Aku tak berdaya, karena aku lemah terhadapmu...
Karena aku kalah di hadapanmu...
Aku yang dulu kuat, mengapa sekarang berubah menjadi ini???

Perjalanan hidup ini tak bisa lagi ku arahkan kemana...
Kehidupan ini tak sanggup lagi kutapaki kemana...
Samudera hatiku tak mampu lagi ku arungi...
Sampai hidupku sendiri tak sanggup untuk ku lihat...

Aku tak sanggup...
Aku tak bisa....
Aku tak sanggup...
Aku tak bisa....
Menjalani hidupku...
Mengarungi kehidupan...
Mengikuti langkahku...
Menapaki jejak...
Ah....
Tampaknya tak bisa lagi...
Tampaknya tak sanggup lagi...

Senin, 31 Januari 2011

Keboborokan Mengintai Generasi Mahasiswa

Lembaga adalah sebuah wadah yang menelurkan seorang aktifis bangsa tapi, kini sedang di landa dilema dan krisis libido berorganisasi yang maha dahsyat. Apa sebab? Tak seorangpun mengetahui formula yang tepat untuk mengatasi krisis multiregenerasi seperti ini, bahkan malaikat sekalipun. Tak hanya lembaga intra kampus saja tapi, telah mewabah sampai ke lembaga ekstra kampus sekalipun. Virus ini di sebabkan oleh sebuah pematangan kedewasaan dalam berpikir mahasiswa yang terlalu cepat sehingga menjadi buah simalakama bagi para pengkader yang ada di tubuh lembaga tersebut. Para pengkader sendiri sibuk mencari kader-kader yang mempunyai animo berorganisasi walaupun animo itu sendiri  sedang mengalami pasang surut bak air laut.
Regenerasi sekarang hanya sibuk dengan hal-hal yang tidak pernah menguntungkan bagi mereka, apa lagi orang yang ada di sekelilingnya. Ngerumpi, nongkrong, sejuta (seolah-olah jual tampang) serta turnamen sorak-menyorak di tempat keramaian kampus merupakan suatu hal yang trend di kalangan mahasiswa sekarang tak hanya cucu Adam tapi, juga telah menyebar sampai ke cucu Hawa sekalipun. Tanpa rasa malu, mereka asyik dengan pertandingan mulut yang di lakoni di tengah-tengah keramaian aktifitas kampus.
Tak ada lagi respons terhadap apa yang bakal terjadi pada mereka nantinya. Tak ada juga signal-signal untuk arah perubahan organisasi kampus. Organisasi sibuk dengan roda keorganisasiannya yang kehilangan kaderisasi, sementara kader itu sendiri juga sibuk dengan aktifitas mubazirnya. Sungguh riskan memang, setelah melihat apa yang terjadi pada pergerakan mahasiswa kita akhir-akhir ini.
Bagaimana akan datang sebuah perubahan terhadap bangsa ini di saat mahasiswanya saja tak pernah lagi memperhatikan keadaan bangsanya apa lagi hal terkecil yang terjadi di tingkat kampus? Kampus ibarat sebuah miniatur dari sebuah bangsa atau negara, jadi di sini mahasiswa bukan hanya bisa tapi juga dituntut harus untuk belajar bagaimana mengatur dan memajukan sebuah negara dengan semestinya. Siapa lagi coy, kalau bukan kita para penerus bangsa ini!!?
Kecemasan bangsa akan terjadi di saat mahasiswa itu sendiri tidak bisa menunjukkan identitasnya sebagai agent of change dan seorang mahasiswa harapan bangsa. Sekarang, dengan melihat kondisi kita dan generasi yang ada, tak akan ada lagi agen-agen perubahan seperti dulu karena agen itu sendiri telah di ubah oleh masa dan perkembangan zamannya sendiri. Tak akan ada juga pemerintahan yang bakal terguling oleh aksi mahasiswa melainkan harga diri mahasiswa sendiri yang telah terguling setelah di nina bobokkan oleh tikus-tikus dan kucing-kucing kantor pemerintahan.
Mahasiswa yang berpikir instan akan membawa perubahan bangsa yang instan juga tanpa adanya pematangan sikap dan pola pikir yang mantap. Mahasiswa adalah penentu arah sebuah negara ke depan, tanpa mahasiswa yang di harapkan bangsa maka dapat di prediksi tak akan ada juga sebuah negara yang tahu arah tujuannya.
Suasana perpolitikan dan keorganisasian yang ada di kampus merupakan dinamika-dinamika dan wadah pencerahan bangsa bernaung kelak. Ketika sebuah wadah tak dapat lagi menampung pencerahan maka tak akan ada juga seberkas pelita kemajuan dan sinar bangsa ke depan. Generasi apa ini?? Mengapa tak ada lagi dinamika-dinamika yang seperti dulu?? Apa ini tanda-tanda kebobrokan kaderisasi?? Atau ini malah tanda-tanda kemelorotan bangsa kita esok harinya??

Siapa yang mau untuk bertanggung jawab terhadap nasib bangsa kita ke depan? Siapa juga yang akan mencarikan obat penawar kebobrokan ini? Apa mungkin pertanyaan tadi pernah muncul di benak pejabat kita? Kalau ada, mengapa keadaan generasi kita semakin memprihatinkan seperti ini? Apa penyebabnya? Atau kesalahan ini ada pada sistem dan cara kerjanya? Atau lagi, malah kutukan terhadap bangsa ini karena pernah di pimpin oleh seorang wanita?
Seharusnya seorang pencerah bangsa itu mampu menalarkan logika dan mensistematiskan pola pemikirannya yang pragmatis, jangan hanya ego individualisme saja yang selalu di kedepankan. Kalau tidak, akan dibawa ke mana sebuah organisasi tersebut, hanya di tingkat organisasi saja logika dan pola pikir mereka selalu kalah oleh ego mereka sendiri, bagaimana nanti kelak ketika mereka di percaya untuk menentukan nasib bangsa yang ada di tangan? Kemana lagi rakyat ini akan mengadu? Apa nasib rakyat mampu di selesaikan oleh mereka yang hanya ego dengan kekuasaan tanpa lagi memikirkan apakah dia mampu dalam bidang yang akan di embannya sebagai penyambung lidah rakyat?
Petarung logika seyogyanyalah harus mampu menunjukkan potensi dan bisa menggali kemampuan yang ada pada dirinya. Bagaimana mungkin tanpa potensi yang terlihat mampu menelurkan tingkat kreatifitas yang tinggi, apa lagi nantinya di harapkan dia dapat menjadi seorang pengkader yang mampu mengkader generasinya mendatang. Dengan kata lain, tak efisien sekiranya seseorang bisa jadi senior tanpa melalui proses pematangan kedewasaan berpikir dan pengayom terhadap kadernya terlebih dahulu.
Ketika kita pantau ke setiap organisasi yang ada di tataran elit keorganisasian intra kampus, dapat kita pahami bagaimana bobroknya kaderisasi. Dampak yang ada di depan kita adalah organisasi berjalan tidak sesuai dengan koridor yang ada. Ketika pengkadernya melimpahkan kepercayaan kepada si kader, di situ juga si kader mengambil kesempatan untuk melakukan sebuah pembalasan dendam organisasi kepada pengkadernya. Tidak adanya lagi curah pendapat dan saling tukar pikiran antara pengkader dengan kadernya sendiri yang mengakibatkan hengkangnya para pembesar-pembesar organisasi tersebut. Kenapa? Mungkin saja para pembesar tadi terkecil hati karena merasa tak di butuhkan lagi untuk organisasi yang di cintainya!!? Atau mungkin si pembesar mempercayai keorganisasian kepada kadernya, walaupun pematangan kaderisasinya belum melewati ambang batasnya!!? Atau lagi mungkin si pembesar lepas tangan karena beberapa hal yang di rasanya baik untuk organisasinya agar tidak terjadi intervensi dan diskriminatif terhadap kepengurusan keorganisasian tersebut!!?
Tapi, apapun itu bukanlah alasan untuk meninggalkan organisasi. Kita juga sama-sama tahu bahwa tahap kristalisasi dalam keorganisasian pernah di laluinya. Beberapa tahap keorganisasian mulai dari orientasi (sebuah tahap perkenal terhadap organisasi yang akan di lakoni), kaderisasi (sebuah tahap penggodokan kader-kader muda yang akan di bina dan di beri pemahaman tentang keorganisasian agar lebih mantap), kristalisasi (sebuah tahap puncak atau akhir dimana perkenalan dan penggodokan tadi jadi matang serta mampu bersaing dengan dunia luar setelah benar-benar lepas dari keorganisasiannya serta mampu berdikari dan mandiri). Tahapan-tahapan tersebut yang akan di jalani oleh si kader supaya visi dan misi organisasipun tertanam di dadanya ketika bersaing dengan dunia luar dengan membawa jiwa seorang organisatoris. Apabila salah satu dari tahapan ini tidak ada pematangan maka, kederisasipun akan bobrok seperti sekarang yang banyak terjadi dengan organisasi-organisasi yang ada.

Apalah artinya kalau organisasi mempunyai kader-kader yang tak pernah matang, walau matang sekalipun tapi tetap saja matang dalam proses yang instant. Jangankan proses kaderisasi, sekedar makan mie saja kita lebih cenderung untuk memasak dalam tahap prosesinya karena lebih sedap daripada hanya dengan air panas (secara instant). Pematangan ini bukan hanya dalam sebuah prosesnya saja tapi, juga segala aspek seperti pematangan sikap, pemikiran, dan juga pematangan kreatifitas. Sorotan-sorotan seperti ini sebenarnya telah menjadi pemikiran sebagian kalangan elit kampus tapi, entah kenapa masih tetap saja belum usai.
Apakah ini cara elit-elit kampus untuk mematikan kreatifitasnya?? Atau organisasi kita sedang di racuni melalui sistem-sistem yang ada?? Wallahu a’lam. Siapa yang tahu? Yang jelas ini adalah merupakan agenda tiap bulan pengurus di tiap-tiap organisasi dan bahkan agenda untuk tiap hari pejabat-pejabat pengurus di masing-masing organisasi malah. Jangan pernah salahkan kader yang bobrok tapi, salahkan siapa yang mengkadernya? Karena “hukum keorganisasian” selalu berlaku : “Sasalah-salah junior, salah juo senior. Saengak-engak junior, engak juo senior. Apolai sapakak-pakak junior, pasti labiah pakak senior”.
Tapi, setelah melalui beberapa masa dan regenerasi maka “hukum” itu telah mengalami pergeseran makna karena ungkapan-ungkapan itu sudah menjadi senjata pamungkas junior untuk ngeles dari setiap kesalahan yang diperbuatnya. Kita semua menyakini bahwa setiap pengkader yang baik tidak akan mengkader dengan hal-hal yang buruk tapi, kenapa setiap kesalahan yang diperbuat selalu saja di mentahkan kembali kepada seniornya? Apakah penerimaan dalam proses pengkaderan yang salah atau malah sistematika pengakaderannya yang salah? Padahal setiap pengkader selalu memberikan hal yang terbaik kan buat bawahannya?
Kita tidak dapat memvonis siapa yang salah dan benar tapi, kita pertanyakan saja pada individu kita masing-masing. Apa kita matang dalam proses pengkaderan atau malah setelah di kader kita tidak layak dalam membina kader kita sendiri? Atau lagi kita harus mencari bagaimana seharusnya di kader dan ketika mengkader? Banyak hal yang harus kita pelajari bersama. Banyak hal juga yang mesti kita kaji ulang tentang bagaimana memformulasikan sistem dan proses kaderisasi ini. Dan yang lebih utama, jangan pernah mengedepankan ego individu dalam berorganisasi melainkan kita ke depankan dulu ego organisasi karena itu merupakan wadah dalam mengembangkan potensi dan pembentukan sikap kedewasaan yang ada pada diri kita sendiri.

Sabtu, 25 Desember 2010

atas bawah

tak akan habis setelah esok datang.
tak akan usang setelah lusa berkunjung.
walau rayap sulaiman memakan kaki penopang hidup, namun dada selalu tak bisa dihentikan untuk berdetak.
dan mengatakan "aku selalu dalam penantian kemarin"

sesudah untuk sebelumnya

mungkin aku manusia yang hidup dengan esok dan lusa di hari ini.
tapi langkah itu dibayangi kemarin dan sebelumnya.
setelah itu apakah misteri lusa bisa aku kuak?
tak terkira lagi berapa keringat yang terganti darah.
tak terhingga juga nafas berganti nyawa.
setelah penantian yang berlalu dibawah lindungan kesabaran.
mungkinkah esok datang bersama harapan dari sepenggal cerita kemarin?
dan maukah masa itu merayu untuk segera muncul lagi di hadapan cahaya esok?

kosong satu

aku ingin itu dan ini tidak akan hilang.
sampaikan salam rinduku untuk yang berlalu karena aku masih berharap dia yang berlalu akan datang lagi di depanku untuk menyusul sesuatu yang tertinggal.
yang terlewat tidak akan sekali kutemui sebab kemungkinan selalu ada untuk kedua, ketiga dan begitu seterusnya.

Rabu, 15 Desember 2010

Panggilan Rindu

Wahai cintaku, di manakah dirimu berada. Apakah kini dirimu tinggal di sebuah taman mungil itu, lantas menyirami bunga-bunga yang terlena menatapmu bagaikan bayi di depan susu ibunya?
Atau mungkin dirimu kini berada di peraduan, di mana kuil kebenaran diletakkan sebagai sebuah penghormatan bagi dirimu. Di tempat itu pula dirimu menyematkan hati dan jiwaku, sebagai sebuah pengorbanan?
Atau diriku tengah berada di antara buku-buku. Dirimu mencari pengetahuan mengenai manusia, sementara engkau telah penuh dengan hikmah surgawi?
Di manakah dirimu berada saat ini, wahai belahan hatiku? Apakah kini dirimu berada di kuil untuk berdoa? Ataukah mungkin sekarang dirimu tengah menyeru alam raya di lading, mengayuh impian dan angan-angan?
Ataukah mungkin dirimu tengah berada di rumah-rumah kaum papa. Menyembunyikan sakit dari luka patah hati dengan hatimu yang cantik. Kemudian memenuhi tangan-tangan mereka dengan rahmatmu?
Dirimu merupakan ruh yang berasal dari Tuhan yang berada di mana-mana. Dirimu jauh lebih kuat daripada sang waktu. Apakah dirimu masih mengingat ketika untuk pertama kalinya kita bertemu? Pada saat sinar yang berasal dari jiwamu memancar di antara kita. Kemudian dewi cinta merengkuh diri kita dan bernyanyi tentang lagu-lagu jiwa.
Apakah dirimu masih mampu mengingat kembali pada saat kita duduk di bawah rindangnya daun-daun. Mereka memberikan perlindungan kepada diri kita dari kemanusiaan. Seperti payung yang melindungi rahasia hati dari segala luka?
Apakah dirimu masih teringat pada lading dan belantara di mana kita dulu berjalan dengan tangan saling bergandengan, kepala-kepala kita saling bersandaran, seolah kita tengah bersembunyi bersama?
Apakah dirimu masih teringat ketika diriku mengatakan selamat tinggal. Kemudian dirimu memberikan kecupan surge di bibirku? Kecupan itu mengajari diriku bahwa bibir yang terpagut di dalam cinta, mampu mengungkapkan rahasia langit yang tidak terkatakan oleh lidah!
Kecupan itu telah memperkenalkan diriku pada desah agung, bagaikan nafas yang maha kuasa yang telah meniup lempung menjadi manusia.
Desah itu membawa kepada dunia spiritual kemudian mengumandangkan keagungan jiwaku. Dirinya pun akan bersemayam di tempat itu hingga suatu saat kita akan bertemu kembali.
Diriku masih ingat pada saat dirimu mencium dan menciumku lagi. Pada saat itu air mataku mengalir di kedua pipi. Dirimu pun berkata, “Tubuh duniawi harus sering berpisah demi tujuan duniawi dan hidup jauh karena maksud duniawi pula.”
“Akan tetapi jiwa-jiwa kita akan tetap bersatu dalam genggaman cinta. Sampai kematian datang pada kita, kemudian menyatukan diri kita di dalam genggaman Tuhan.”
“Wahai kekasih hatiku, segeralah engkau pergi. Cinta sudah memilihmu sebagai utusannya. Penuhilah, sebab dirinya merupakan keindahan yang akan membagikan manisnya kehidupan kepada para pengikutnya. Walaupun tanganku kini kosong, namun cintamu akan tetap menjadi penyejuk yang kunantikan. Kenangan tentangmu merupakan persandinganku yang kekal abadi.”
Jiwaku yang lain, kini di manakah dirimu berada? Apakah kini dirimu telah bangun pada saat malam sunyi datang? Dengarkanlah detak jantung dan resah nafasku ini dalam alunan angin yang murni.
Apakah dirimu senantiasa menatap wajahku pada setiap kenanganmu? Gambaran itu tidak lain hampir sama dengan wajahku, sebab kesengsaraan sudah memoles wajahku dengan rona yang lain.
Keluh kesah sudah kujadikan sebagai hiasan kedua mataku, yang senantiasa membayangkan kecantikanmu. Kemudian akan membuat bibirku ini menjadi kering, yang sebelumnya telah engkau basahi dengan ciumanmu.
Wahai kekasih, di manakah dirimu berada saat ini? Apakah dirimu masih mendengar jeritanku ini dari seberang lautan sana? Apakah dirimu memahami keinginanku? Apakah dirimu tahu betapa besarnya ketabahanku?
Apakah ada jiwa yang mampu menyampaikan hembusan nafas terakhir dari keremajaan yang tengah sekarat ini? Apakah ada jalan untuk bertegur sapa secara rahasia di antara para malaikat yang mampu memberitahukan semua keluh kesahku pada dirimu?
Wahai bintang kejoraku, di manakah kini dirimu berada? Hidupku menjadi kabur tanpa kehadiranmu. Layarkan senyumanmu ke angkasa raya. Biarkan ia menjangkau dan menghidupkan diriku. Tebarkan aromamu ke udara dan biarkan ia menopang tubuhku.
Wahai kekasih hatiku, di manakah kini dirimu berada? Duhai cinta, betapa agungnya dirimu dan betapa kecilnya diriku ini!