Rabu, 15 Desember 2010

Panggilan Rindu

Wahai cintaku, di manakah dirimu berada. Apakah kini dirimu tinggal di sebuah taman mungil itu, lantas menyirami bunga-bunga yang terlena menatapmu bagaikan bayi di depan susu ibunya?
Atau mungkin dirimu kini berada di peraduan, di mana kuil kebenaran diletakkan sebagai sebuah penghormatan bagi dirimu. Di tempat itu pula dirimu menyematkan hati dan jiwaku, sebagai sebuah pengorbanan?
Atau diriku tengah berada di antara buku-buku. Dirimu mencari pengetahuan mengenai manusia, sementara engkau telah penuh dengan hikmah surgawi?
Di manakah dirimu berada saat ini, wahai belahan hatiku? Apakah kini dirimu berada di kuil untuk berdoa? Ataukah mungkin sekarang dirimu tengah menyeru alam raya di lading, mengayuh impian dan angan-angan?
Ataukah mungkin dirimu tengah berada di rumah-rumah kaum papa. Menyembunyikan sakit dari luka patah hati dengan hatimu yang cantik. Kemudian memenuhi tangan-tangan mereka dengan rahmatmu?
Dirimu merupakan ruh yang berasal dari Tuhan yang berada di mana-mana. Dirimu jauh lebih kuat daripada sang waktu. Apakah dirimu masih mengingat ketika untuk pertama kalinya kita bertemu? Pada saat sinar yang berasal dari jiwamu memancar di antara kita. Kemudian dewi cinta merengkuh diri kita dan bernyanyi tentang lagu-lagu jiwa.
Apakah dirimu masih mampu mengingat kembali pada saat kita duduk di bawah rindangnya daun-daun. Mereka memberikan perlindungan kepada diri kita dari kemanusiaan. Seperti payung yang melindungi rahasia hati dari segala luka?
Apakah dirimu masih teringat pada lading dan belantara di mana kita dulu berjalan dengan tangan saling bergandengan, kepala-kepala kita saling bersandaran, seolah kita tengah bersembunyi bersama?
Apakah dirimu masih teringat ketika diriku mengatakan selamat tinggal. Kemudian dirimu memberikan kecupan surge di bibirku? Kecupan itu mengajari diriku bahwa bibir yang terpagut di dalam cinta, mampu mengungkapkan rahasia langit yang tidak terkatakan oleh lidah!
Kecupan itu telah memperkenalkan diriku pada desah agung, bagaikan nafas yang maha kuasa yang telah meniup lempung menjadi manusia.
Desah itu membawa kepada dunia spiritual kemudian mengumandangkan keagungan jiwaku. Dirinya pun akan bersemayam di tempat itu hingga suatu saat kita akan bertemu kembali.
Diriku masih ingat pada saat dirimu mencium dan menciumku lagi. Pada saat itu air mataku mengalir di kedua pipi. Dirimu pun berkata, “Tubuh duniawi harus sering berpisah demi tujuan duniawi dan hidup jauh karena maksud duniawi pula.”
“Akan tetapi jiwa-jiwa kita akan tetap bersatu dalam genggaman cinta. Sampai kematian datang pada kita, kemudian menyatukan diri kita di dalam genggaman Tuhan.”
“Wahai kekasih hatiku, segeralah engkau pergi. Cinta sudah memilihmu sebagai utusannya. Penuhilah, sebab dirinya merupakan keindahan yang akan membagikan manisnya kehidupan kepada para pengikutnya. Walaupun tanganku kini kosong, namun cintamu akan tetap menjadi penyejuk yang kunantikan. Kenangan tentangmu merupakan persandinganku yang kekal abadi.”
Jiwaku yang lain, kini di manakah dirimu berada? Apakah kini dirimu telah bangun pada saat malam sunyi datang? Dengarkanlah detak jantung dan resah nafasku ini dalam alunan angin yang murni.
Apakah dirimu senantiasa menatap wajahku pada setiap kenanganmu? Gambaran itu tidak lain hampir sama dengan wajahku, sebab kesengsaraan sudah memoles wajahku dengan rona yang lain.
Keluh kesah sudah kujadikan sebagai hiasan kedua mataku, yang senantiasa membayangkan kecantikanmu. Kemudian akan membuat bibirku ini menjadi kering, yang sebelumnya telah engkau basahi dengan ciumanmu.
Wahai kekasih, di manakah dirimu berada saat ini? Apakah dirimu masih mendengar jeritanku ini dari seberang lautan sana? Apakah dirimu memahami keinginanku? Apakah dirimu tahu betapa besarnya ketabahanku?
Apakah ada jiwa yang mampu menyampaikan hembusan nafas terakhir dari keremajaan yang tengah sekarat ini? Apakah ada jalan untuk bertegur sapa secara rahasia di antara para malaikat yang mampu memberitahukan semua keluh kesahku pada dirimu?
Wahai bintang kejoraku, di manakah kini dirimu berada? Hidupku menjadi kabur tanpa kehadiranmu. Layarkan senyumanmu ke angkasa raya. Biarkan ia menjangkau dan menghidupkan diriku. Tebarkan aromamu ke udara dan biarkan ia menopang tubuhku.
Wahai kekasih hatiku, di manakah kini dirimu berada? Duhai cinta, betapa agungnya dirimu dan betapa kecilnya diriku ini!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar