Sabtu, 25 Desember 2010

atas bawah

tak akan habis setelah esok datang.
tak akan usang setelah lusa berkunjung.
walau rayap sulaiman memakan kaki penopang hidup, namun dada selalu tak bisa dihentikan untuk berdetak.
dan mengatakan "aku selalu dalam penantian kemarin"

sesudah untuk sebelumnya

mungkin aku manusia yang hidup dengan esok dan lusa di hari ini.
tapi langkah itu dibayangi kemarin dan sebelumnya.
setelah itu apakah misteri lusa bisa aku kuak?
tak terkira lagi berapa keringat yang terganti darah.
tak terhingga juga nafas berganti nyawa.
setelah penantian yang berlalu dibawah lindungan kesabaran.
mungkinkah esok datang bersama harapan dari sepenggal cerita kemarin?
dan maukah masa itu merayu untuk segera muncul lagi di hadapan cahaya esok?

kosong satu

aku ingin itu dan ini tidak akan hilang.
sampaikan salam rinduku untuk yang berlalu karena aku masih berharap dia yang berlalu akan datang lagi di depanku untuk menyusul sesuatu yang tertinggal.
yang terlewat tidak akan sekali kutemui sebab kemungkinan selalu ada untuk kedua, ketiga dan begitu seterusnya.

Rabu, 15 Desember 2010

Panggilan Rindu

Wahai cintaku, di manakah dirimu berada. Apakah kini dirimu tinggal di sebuah taman mungil itu, lantas menyirami bunga-bunga yang terlena menatapmu bagaikan bayi di depan susu ibunya?
Atau mungkin dirimu kini berada di peraduan, di mana kuil kebenaran diletakkan sebagai sebuah penghormatan bagi dirimu. Di tempat itu pula dirimu menyematkan hati dan jiwaku, sebagai sebuah pengorbanan?
Atau diriku tengah berada di antara buku-buku. Dirimu mencari pengetahuan mengenai manusia, sementara engkau telah penuh dengan hikmah surgawi?
Di manakah dirimu berada saat ini, wahai belahan hatiku? Apakah kini dirimu berada di kuil untuk berdoa? Ataukah mungkin sekarang dirimu tengah menyeru alam raya di lading, mengayuh impian dan angan-angan?
Ataukah mungkin dirimu tengah berada di rumah-rumah kaum papa. Menyembunyikan sakit dari luka patah hati dengan hatimu yang cantik. Kemudian memenuhi tangan-tangan mereka dengan rahmatmu?
Dirimu merupakan ruh yang berasal dari Tuhan yang berada di mana-mana. Dirimu jauh lebih kuat daripada sang waktu. Apakah dirimu masih mengingat ketika untuk pertama kalinya kita bertemu? Pada saat sinar yang berasal dari jiwamu memancar di antara kita. Kemudian dewi cinta merengkuh diri kita dan bernyanyi tentang lagu-lagu jiwa.
Apakah dirimu masih mampu mengingat kembali pada saat kita duduk di bawah rindangnya daun-daun. Mereka memberikan perlindungan kepada diri kita dari kemanusiaan. Seperti payung yang melindungi rahasia hati dari segala luka?
Apakah dirimu masih teringat pada lading dan belantara di mana kita dulu berjalan dengan tangan saling bergandengan, kepala-kepala kita saling bersandaran, seolah kita tengah bersembunyi bersama?
Apakah dirimu masih teringat ketika diriku mengatakan selamat tinggal. Kemudian dirimu memberikan kecupan surge di bibirku? Kecupan itu mengajari diriku bahwa bibir yang terpagut di dalam cinta, mampu mengungkapkan rahasia langit yang tidak terkatakan oleh lidah!
Kecupan itu telah memperkenalkan diriku pada desah agung, bagaikan nafas yang maha kuasa yang telah meniup lempung menjadi manusia.
Desah itu membawa kepada dunia spiritual kemudian mengumandangkan keagungan jiwaku. Dirinya pun akan bersemayam di tempat itu hingga suatu saat kita akan bertemu kembali.
Diriku masih ingat pada saat dirimu mencium dan menciumku lagi. Pada saat itu air mataku mengalir di kedua pipi. Dirimu pun berkata, “Tubuh duniawi harus sering berpisah demi tujuan duniawi dan hidup jauh karena maksud duniawi pula.”
“Akan tetapi jiwa-jiwa kita akan tetap bersatu dalam genggaman cinta. Sampai kematian datang pada kita, kemudian menyatukan diri kita di dalam genggaman Tuhan.”
“Wahai kekasih hatiku, segeralah engkau pergi. Cinta sudah memilihmu sebagai utusannya. Penuhilah, sebab dirinya merupakan keindahan yang akan membagikan manisnya kehidupan kepada para pengikutnya. Walaupun tanganku kini kosong, namun cintamu akan tetap menjadi penyejuk yang kunantikan. Kenangan tentangmu merupakan persandinganku yang kekal abadi.”
Jiwaku yang lain, kini di manakah dirimu berada? Apakah kini dirimu telah bangun pada saat malam sunyi datang? Dengarkanlah detak jantung dan resah nafasku ini dalam alunan angin yang murni.
Apakah dirimu senantiasa menatap wajahku pada setiap kenanganmu? Gambaran itu tidak lain hampir sama dengan wajahku, sebab kesengsaraan sudah memoles wajahku dengan rona yang lain.
Keluh kesah sudah kujadikan sebagai hiasan kedua mataku, yang senantiasa membayangkan kecantikanmu. Kemudian akan membuat bibirku ini menjadi kering, yang sebelumnya telah engkau basahi dengan ciumanmu.
Wahai kekasih, di manakah dirimu berada saat ini? Apakah dirimu masih mendengar jeritanku ini dari seberang lautan sana? Apakah dirimu memahami keinginanku? Apakah dirimu tahu betapa besarnya ketabahanku?
Apakah ada jiwa yang mampu menyampaikan hembusan nafas terakhir dari keremajaan yang tengah sekarat ini? Apakah ada jalan untuk bertegur sapa secara rahasia di antara para malaikat yang mampu memberitahukan semua keluh kesahku pada dirimu?
Wahai bintang kejoraku, di manakah kini dirimu berada? Hidupku menjadi kabur tanpa kehadiranmu. Layarkan senyumanmu ke angkasa raya. Biarkan ia menjangkau dan menghidupkan diriku. Tebarkan aromamu ke udara dan biarkan ia menopang tubuhku.
Wahai kekasih hatiku, di manakah kini dirimu berada? Duhai cinta, betapa agungnya dirimu dan betapa kecilnya diriku ini!

Perjamuan Jiwa

Bangunlah, Cintaku.
Bangun!
Karena jiwaku mengalu-alumu dari dasar laut, dan menawarkan padamu sayap-sayap di atas gelombang yang mengamuk..
Bangunlah,
Karena sunyi telah menghentikan derap kaki kuda dan langkah para pejalan kaki..
Rasa kantuk telah memeluk roh setiap laki-laki, sementara aku terbangun sendiri, rasa rindu membukakan kertas surat tidurku..

Cinta membawaku dekat denganmu, namun kebimbangan melemparkan diriku menjauh darimu..
Aku telah membuang bukuku,
Karena keluhku mengunci kata-kata dan desah nafasku meninggalkan tempat tidurku..
Cintaku,
Karena takut pada hantu, lupa yang berada di balik selimut..
Aku telah membuang bukuku,
Karena keluhku mengunci kata-kata dan desah nafasku meninggalkan halaman buku yang kosong di depan mataku..

Bangun,
Bangunlah,
Cintaku dan dengar diriku!
Aku mendengarkanmu..
Cintaku!
Aku mendengar panggilanmu dari lautan lepas dan merasakan lembutnya sentuhan sayapmu..
Aku telah jauh dari ranjangku, beranjak ke tanah lapang, hingga embun membasahi kaki dan bajuku..

Di sinilah aku berdiri,
dibawah bunga-bunga pohon sawit,
memenuhi panggilan jiwamu..
Bicaralah padaku,
Cintaku,
dan biarkan nafasmu menghirup angin gunung yang datang padaku dari lembah-lembah Agam.
Bicaralah!!
Tak ada yang akan mendengar selain diriku..
Malam telah melarutkan semua manusia ditempat tidurnya..
Surga telah menyulam cahaya rembulan dan menghamparkannya ke seluruh daratan Sumatera

Cintaku!
Surga telah meriasnya dengan bayangan malam,
jubah tebal membentang dihembus asap dari cerobong kain,
dihembus nafas kemari, dan mengelarnya di telapak dusun-dusun,
Cintaku!
Para penduduk telah pulas menganyam mimpi di ubun-ubunnya di tengah pohon-pohon..
Jiwa mereka mempercepatkan langkah mengejar negeri mimpi,

Cintaku!
Lelaki-lelaki longlai menggendong emas,
dan tebing curam yang akan dilalui melemaskan lutut mereka..
Mata mereka mengantuk karena dililit kesulitan dan ketakutan..
Mereka melemparkan tubuh ke tempat tidur sebagai tempat berlindung dari hantu-hantu yang menakutkan dan mengerikan..

Cintaku!
Hantu-hantu dari masa lalu berkeliaran di lembah-lembah..
Jiwa para raja melintasi bukit-bukit..
Pikiranku yang berhias kenangan menyingkap kekuatan bangsa manusia, kemegahan gempa..
Di lorong-lorong gelap, jiwa-jiwa pencuri yang tegap berjalan,
muncung-muncung nafsu ular berbisa muncul dari celah-celah benteng,
dan rasa sakit berdengung kematian,
muntah-muntah sepanjang jalan..
Kenangan menyingkap tabir kelupaan dari mataku dan nampaklah pejabat kampung yang menjijikkan, serta dosa-dosa orang-orang kaya..
Ranting-ranting berayun-ayun,

Cintaku,
dan desirnya bertemu dengan alunan anak sungai di lembah..
Syair-syair Sulaiman,
nada kecapi Daud dan lagu Ishak Al-Mausaili terngiang-ngiang di telinga kami..
Jiwa anak-anak yang lapar di pengungsian menggelupur,
ibunya mengeluh di atas kamar kesedihan,
dan kekecewaan telah jatuh dari langit.
Mimpi-mimpi kebimbangan melanda hati yang lemah..
Aku mendengar rintihan pahitnya..
Semerbak bunga melambai seiring nafas pohon-pohon..
Terbawa angin sepoi-sepoi menuju perbukitan,
harum itu mengisi jiwa dengan kasih sayang dan meniupkan kerinduan untuk terbang..
Tetapi racun dari rawa-rawa juga berkelana mengepul bersama penyakit..
Seperti panah yang tajam,
racun itu telah menembusi perasaan dan meracuni udara.
Tanpa kusadari matahari telah mengilaukan cahaya pagi,

Cintaku,
dan jari-jari timur yang lentik menimang mata-mata orang yang terlelap..
Cahaya itu memaksa mereka untuk membuka daun jendela dan menyelak hati dan kemenangan.
Desa-desa,
yang sedang tertidur dalam damai dan tenang di pundak-pundak lembah,
bangun,
suara adzan berkumandang memenuhi angkasa sebagai panggilan untuk mula berjumpa padaNya..
Dan dari gua-gua, gema-gema juga berdengung,
seolah-olah seluruh alam sedang berdoa bersama-sama dengan khusyuknya..
Anak-anak sapi telah keluar dari kandangnya,
biri-biri dan kambing meninggalkan bangsalnya untuk menuai rumput yang berembun dan berkilatan cahaya.
Penggembalanya mengikuti dari belakang sambil mengamatinya di balik savana dan stepa..
Di belakangnya lagi, gadis-gadis bernyanyi seperti burung menyambut pagi..
Kini tangan siang hari yang perkasa terbaring di atas dusun..
Tirai telah diselak dari jendela dan pintu pun terbuka..
Mata yang penat dan wajah lesu para petani telah siap di tempat kerjanya.
Mereka merasakan kematian telah melanggar batas kehidupan mereka,
dan riak muka yang layu mempamerkan ketakutan dan kekecewaan.
Di jalanan padat dengan jiwa-jiwa yang tamak dan tergesa-gesa,
dan di mana-mana terdengar desingan besi,
putaran roda dan siulan angin..
Dusun telah menjadi arena pertempuran di mana yang kuat menindas yang lemah dan si kaya mengeksploitasi dan menguasai si miskin..
Betapa indah hidup ini..

Cintaku,
seperti hati penyair yang penuh dengan cahaya dan kelembutan hati..
Dan betapa kerasnya hidup ini,
Cintaku,
seperti dada penjahat, yang berdebar-debar karena selalu merasa bimbang dan takut..

AKTIFIS PINGGIRAN

Kecerdasan mahasiswa (yang katanya sich aktifis!!?) itu bukannya di ukur dari keberaniannya dalam mengungkapkan dan sekaligus menyelesaikan permasalahan!!!??
Tapi, kok malah jadi pengecut sich bro!!?
Hai saudara ku aktifis kampus di manapun kau bersembunyi…
Keluarlah dari sarangmu!!
Jangan seperti umang-umang yang bersembunyi ketika ada lawan di depan mata!!
Hadapi dengan pemikiranmu seandainya kau mahasiswa yang masih mampu untuk berpikir jernih!!!
Hadang dengan  argumen wawasanmu jikalau kau seorang aktifis kampus sejati!!
Jangan seperti seorang aktifis mahasiswa kacangan!!?
Tapi, itu juga kalau masih merasa sebagai pemuda yang terlahir jantan dari  kandungan ibu yang kau banggakan…

Mengapa tak pernah kau buka kebenaran yang oleh segelintir orang di jadi kan seperti “aurat” untuk sebuah perpecahan di antara kita sebelum kau berkoar tentang anak tiri dan anak kandung!!?
Andaikan anak nya saja bisa berpikir ada anak tiri dan anak kandung berarti, ada juga donk Bapak tiri dan Bapak kandung, ya nggak bro!!?
Mengapa hanya dari pertapaanmu saja aku tahu jeritan mu, wahai kaum yang terpinggirkan!?
Tunjukkan kalau kau itu ada dan benar melalui potensi yang kau gali sendiri di dirimu!!!
Jangan hanya bisa berteriak di balik ketiak ibumu!!!
Sehingga suara mu yang ada di pinggiran itu terdengar sampai ke telinga anggota caleg-caleg kita bukan hanya sampai ke telinga Dekan dan para dedengkotnya saja!!?

Ingat kawan-kawan aktifis terselubung!!!
Pergerakan jangan tanggung-tanggung…
Kalau mau menyelesaikan benang kusut, cari tengah dan ujung-ujungnya!!?
Jangan sama kayak nyelesein orang-orang ketakutan!!?
Katanya aktifis tapi, kok kucing-kucingan sich!?
Atau anda aktifis kucingan ya!!!!??

Kami berharap kau adalah seorang aktifis diplomatis tulen yang selalu menyelesaikan permasalahan dengan jalan dialog atau tukar pikiran tapi, harapan kami tinggal hanya harapan kosong…
Sedikit permasalahan saja kau selesaikan dengan jalan berteriak-teriak seperti seorang waria yang berteriak ketika di ganggu sewaqktu mangkal di pinggir jalan!!?
Oh ya, atau kau ini sama seperti mereka yang di pinggir jalan itu???
Waduh, jangan sampai dech bro pikiran kami ini jadi kenyataan!!?
Biarkan dia hanya jadi pikiran kami doank!!!

Ketika Kamu Berpikir Saya Tidak Melihat

Sebuah pesan yang seharusnya dibaca semua orang dewasa, karena anak-anak memperhatikan kamu dan melakukan seperti apa yang kamu lakukan bukan seperti apa yang kamu katakan.
Ketika kamu berpikir saya tidak melihat, saya melihat kamu menggantungkan lukisan pertama saya pada lemari es dan saya ingin cepat-cepat untuk melukis yang lain lagi.
Ketika kamu berpikir saya tidak melihat, melihat kamu memberi makan seekor kucing liar, dan saya belajar adalah sungguh baik untuk menyayangi binatang. Ketika kamu berpikir saya tidak melihat, melihat kamu membuat kue kesukaanku dan saya belajar bahwa hal kecil pun dapat menjadi sesuatu yang spesial dalam hidup.
Ketika kamu berpikir bahwa saya tidak melihat, saya mendengar kamu mengucapkan doa dan saya tahu di sana ada Tuhan yang selalu saya bisa saya ajak ngobrol dan saya belajar untuk percaya dalam Tuhan.
Ketika kamu berpikir saya tidak memperhatikan, saya melihat kamu membuatkan makanan dan membawanya kepada seorang teman yang sakit, dan saya belajar bahwa segala yang kita punya dapat dipakai untuk menolong sesama.
Ketika kamu berpikir saya tidak melihat, saya melihat kamu memberikan waktumu dan uangmu untuk menolong orang yang tidak memliki apapun dan saya belajar bahwa orang mempunyai sesuatu harus memberikan kepada orang tidak punya.
Ketika kamu berpikir saya tidak melihat, saya melihat kamu peduli dengan rumah kita dan kepada setiap orang di dalamnya dan saya belajar bahwa kita harus peduli pada apa yang diberikan kepada kita.
Ketika kamu berpikir saya tidak melihat, saya melihat bagaimana kamu memegang tanggung jawabmu, bahkan ketika kamu merasa tidak enak dan saya belajar bahwa saya akan menjadi orang bertanggungjawab ketika saya semakin dewasa.
Ketika kamu berpikir bahwa saya tidak melihat, saya melihat air mata dari matamu dan saya belajar bahwa kadang kala sesuatu itu menyakitkan dan tidak salah untuk menangis
Ketika kamu berpikir saya tidak melihat, saya melihat bahwa kamu peduli dan saya ingin menjadi segala sesuatu yang saya mampu.
Ketika kamu berpikir bahwa saya tidak memperhatikan, belajar paling banyak dari masalah hidup bahwa saya perlu untuk mengetahui bagaimana menjadi orang yang baik dan produktif ketika saya bertumbuh dewasa.
Ketika kamu berpikir saya tidak melihat, saya mencarimu dan ingin mengatakan “Terimakasih untuk segala sesuatu yang saya lihat ketika kamu berpikir saya tidak melihat.
Mata Kecil Melihat Banyak Hal. Setiap dari kita, orang tua ataupun teman, mempengaruhi hidup dari seorang anak. Bagaimana kamu akan menyentuh kehidupan sesorang hari ini?

Bobroknya Kaderisasi

Lembaga adalah sebuah wadah yang menelurkan seorang aktifis bangsa tapi, kini sedang di landa dilema dan krisis libido berorganisasi yang maha dahsyat. Apa sebab? Tak seorangpun mengetahui formula yang tepat untuk mengatasi krisis multiregenerasi seperti ini, bahkan malaikat sekalipun. Tak hanya lembaga intra kampus saja tapi, telah mewabah sampai ke lembaga ekstra kampus sekalipun. Virus ini di sebabkan oleh sebuah pematangan kedewasaan dalam berpikir mahasiswa yang terlalu cepat sehingga menjadi buah simalakama bagi para pengkader yang ada di tubuh lembaga tersebut. Para pengkader sendiri sibuk mencari kader-kader yang mempunyai animo berorganisasi walaupun animo itu sendiri  sedang mengalami pasang surut bak air laut.
Regenerasi sekarang hanya sibuk dengan hal-hal yang tidak pernah menguntungkan bagi mereka, apa lagi orang yang ada di sekelilingnya. Ngerumpi, nongkrong, sejuta (seolah-olah jual tampang) serta turnamen sorak-menyorak di tempat keramaian kampus merupakan suatu hal yang trend di kalangan mahasiswa sekarang tak hanya cucu Adam tapi, juga telah menyebar sampai ke cucu Hawa sekalipun. Tanpa rasa malu, mereka asyik dengan pertandingan mulut yang di lakoni di tengah-tengah keramaian aktifitas kampus.
Tak ada lagi respons terhadap apa yang bakal terjadi pada mereka nantinya. Tak ada juga signal-signal untuk arah perubahan organisasi kampus. Organisasi sibuk dengan roda keorganisasiannya yang kehilangan kaderisasi, sementara kader itu sendiri juga sibuk dengan aktifitas mubazirnya. Sungguh riskan memang, setelah melihat apa yang terjadi pada pergerakan mahasiswa kita akhir-akhir ini.
Bagaimana akan datang sebuah perubahan terhadap bangsa ini di saat mahasiswanya saja tak pernah lagi memperhatikan keadaan bangsanya apa lagi hal terkecil yang terjadi di tingkat kampus? Kampus ibarat sebuah miniatur dari sebuah bangsa atau negara, jadi di sini mahasiswa bukan hanya bisa tapi juga dituntut harus untuk belajar bagaimana mengatur dan memajukan sebuah negara dengan semestinya. Siapa lagi coy, kalau bukan kita para penerus bangsa ini!!?
Kecemasan bangsa akan terjadi di saat mahasiswa itu sendiri tidak bisa menunjukkan identitasnya sebagai agent of change dan seorang mahasiswa harapan bangsa. Sekarang, dengan melihat kondisi kita dan generasi yang ada, tak akan ada lagi agen-agen perubahan seperti dulu karena agen itu sendiri telah di ubah oleh masa dan perkembangan zamannya sendiri. Tak akan ada juga pemerintahan yang bakal terguling oleh aksi mahasiswa melainkan harga diri mahasiswa sendiri yang telah terguling setelah di nina bobokkan oleh tikus-tikus dan kucing-kucing kantor pemerintahan.
Mahasiswa yang berpikir instan akan membawa perubahan bangsa yang instan juga tanpa adanya pematangan sikap dan pola pikir yang mantap. Mahasiswa adalah penentu arah sebuah negara ke depan, tanpa mahasiswa yang di harapkan bangsa maka dapat di prediksi tak akan ada juga sebuah negara yang tahu arah tujuannya.
Suasana perpolitikan dan keorganisasian yang ada di kampus merupakan dinamika-dinamika dan wadah pencerahan bangsa bernaung kelak. Ketika sebuah wadah tak dapat lagi menampung pencerahan maka tak akan ada juga seberkas pelita kemajuan dan sinar bangsa ke depan. Generasi apa ini?? Mengapa tak ada lagi dinamika-dinamika yang seperti dulu?? Apa ini tanda-tanda kebobrokan kaderisasi?? Atau ini malah tanda-tanda kemelorotan bangsa kita esok harinya??

Siapa yang mau untuk bertanggung jawab terhadap nasib bangsa kita ke depan? Siapa juga yang akan mencarikan obat penawar kebobrokan ini? Apa mungkin pertanyaan tadi pernah muncul di benak pejabat kita? Kalau ada, mengapa keadaan generasi kita semakin memprihatinkan seperti ini? Apa penyebabnya? Atau kesalahan ini ada pada sistem dan cara kerjanya? Atau lagi, malah kutukan terhadap bangsa ini karena pernah di pimpin oleh seorang wanita?
Seharusnya seorang pencerah bangsa itu mampu menalarkan logika dan mensistematiskan pola pemikirannya yang pragmatis, jangan hanya ego individualisme saja yang selalu di kedepankan. Kalau tidak, akan dibawa ke mana sebuah organisasi tersebut, hanya di tingkat organisasi saja logika dan pola pikir mereka selalu kalah oleh ego mereka sendiri, bagaimana nanti kelak ketika mereka di percaya untuk menentukan nasib bangsa yang ada di tangan? Kemana lagi rakyat ini akan mengadu? Apa nasib rakyat mampu di selesaikan oleh mereka yang hanya ego dengan kekuasaan tanpa lagi memikirkan apakah dia mampu dalam bidang yang akan di embannya sebagai penyambung lidah rakyat?
Petarung logika seyogyanyalah harus mampu menunjukkan potensi dan bisa menggali kemampuan yang ada pada dirinya. Bagaimana mungkin tanpa potensi yang terlihat mampu menelurkan tingkat kreatifitas yang tinggi, apa lagi nantinya di harapkan dia dapat menjadi seorang pengkader yang mampu mengkader generasinya mendatang. Dengan kata lain, tak efisien sekiranya seseorang bisa jadi senior tanpa melalui proses pematangan kedewasaan berpikir dan pengayom terhadap kadernya terlebih dahulu.
Ketika kita pantau ke setiap organisasi yang ada di tataran elit keorganisasian intra kampus, dapat kita pahami bagaimana bobroknya kaderisasi. Dampak yang ada di depan kita adalah organisasi berjalan tidak sesuai dengan koridor yang ada. Ketika pengkadernya melimpahkan kepercayaan kepada si kader, di situ juga si kader mengambil kesempatan untuk melakukan sebuah pembalasan dendam organisasi kepada pengkadernya. Tidak adanya lagi curah pendapat dan saling tukar pikiran antara pengkader dengan kadernya sendiri yang mengakibatkan hengkangnya para pembesar-pembesar organisasi tersebut. Kenapa? Mungkin saja para pembesar tadi terkecil hati karena merasa tak di butuhkan lagi untuk organisasi yang di cintainya!!? Atau mungkin si pembesar mempercayai keorganisasian kepada kadernya, walaupun pematangan kaderisasinya belum melewati ambang batasnya!!? Atau lagi mungkin si pembesar lepas tangan karena beberapa hal yang di rasanya baik untuk organisasinya agar tidak terjadi intervensi dan diskriminatif terhadap kepengurusan keorganisasian tersebut!!?
Tapi, apapun itu bukanlah alasan untuk meninggalkan organisasi. Kita juga sama-sama tahu bahwa tahap kristalisasi dalam keorganisasian pernah di laluinya. Beberapa tahap keorganisasian mulai dari orientasi (sebuah tahap perkenal terhadap organisasi yang akan di lakoni), kaderisasi (sebuah tahap penggodokan kader-kader muda yang akan di bina dan di beri pemahaman tentang keorganisasian agar lebih mantap), kristalisasi (sebuah tahap puncak atau akhir dimana perkenalan dan penggodokan tadi jadi matang serta mampu bersaing dengan dunia luar setelah benar-benar lepas dari keorganisasiannya serta mampu berdikari dan mandiri). Tahapan-tahapan tersebut yang akan di jalani oleh si kader supaya visi dan misi organisasipun tertanam di dadanya ketika bersaing dengan dunia luar dengan membawa jiwa seorang organisatoris. Apabila salah satu dari tahapan ini tidak ada pematangan maka, kederisasipun akan bobrok seperti sekarang yang banyak terjadi dengan organisasi-organisasi yang ada.

Apalah artinya kalau organisasi mempunyai kader-kader yang tak pernah matang, walau matang sekalipun tapi tetap saja matang dalam proses yang instant. Jangankan proses kaderisasi, sekedar makan mie saja kita lebih cenderung untuk memasak dalam tahap prosesinya karena lebih sedap daripada hanya dengan air panas (secara instant). Pematangan ini bukan hanya dalam sebuah prosesnya saja tapi, juga segala aspek seperti pematangan sikap, pemikiran, dan juga pematangan kreatifitas. Sorotan-sorotan seperti ini sebenarnya telah menjadi pemikiran sebagian kalangan elit kampus tapi, entah kenapa masih tetap saja belum usai.
Apakah ini cara elit-elit kampus untuk mematikan kreatifitasnya?? Atau organisasi kita sedang di racuni melalui sistem-sistem yang ada?? Wallahu a’lam. Siapa yang tahu? Yang jelas ini adalah merupakan agenda tiap bulan pengurus di tiap-tiap organisasi dan bahkan agenda untuk tiap hari pejabat-pejabat pengurus di masing-masing organisasi malah. Jangan pernah salahkan kader yang bobrok tapi, salahkan siapa yang mengkadernya? Karena “hukum keorganisasian” selalu berlaku : “Sasalah-salah junior, salah juo senior. Saengak-engak junior, engak juo senior. Apolai sapakak-pakak junior, pasti labiah pakak senior”.
Tapi, setelah melalui beberapa masa dan regenerasi maka “hukum” itu telah mengalami pergeseran makna karena ungkapan-ungkapan itu sudah menjadi senjata pamungkas junior untuk ngeles dari setiap kesalahan yang diperbuatnya. Kita semua menyakini bahwa setiap pengkader yang baik tidak akan mengkader dengan hal-hal yang buruk tapi, kenapa setiap kesalahan yang diperbuat selalu saja di mentahkan kembali kepada seniornya? Apakah penerimaan dalam proses pengkaderan yang salah atau malah sistematika pengakaderannya yang salah? Padahal setiap pengkader selalu memberikan hal yang terbaik kan buat bawahannya?
Kita tidak dapat memvonis siapa yang salah dan benar tapi, kita pertanyakan saja pada individu kita masing-masing. Apa kita matang dalam proses pengkaderan atau malah setelah di kader kita tidak layak dalam membina kader kita sendiri? Atau lagi kita harus mencari bagaimana seharusnya di kader dan ketika mengkader? Banyak hal yang harus kita pelajari bersama. Banyak hal juga yang mesti kita kaji ulang tentang bagaimana memformulasikan sistem dan proses kaderisasi ini. Dan yang lebih utama, jangan pernah mengedepankan ego individu dalam berorganisasi melainkan kita ke depankan dulu ego organisasi karena itu merupakan wadah dalam mengembangkan potensi dan pembentukan sikap kedewasaan yang ada pada diri kita sendiri.