Lembaga adalah sebuah wadah yang menelurkan seorang aktifis bangsa tapi, kini sedang di landa dilema dan krisis libido berorganisasi yang maha dahsyat. Apa sebab? Tak seorangpun mengetahui formula yang tepat untuk mengatasi krisis multiregenerasi seperti ini, bahkan malaikat sekalipun. Tak hanya lembaga intra kampus saja tapi, telah mewabah sampai ke lembaga ekstra kampus sekalipun. Virus ini di sebabkan oleh sebuah pematangan kedewasaan dalam berpikir mahasiswa yang terlalu cepat sehingga menjadi buah simalakama bagi para pengkader yang ada di tubuh lembaga tersebut. Para pengkader sendiri sibuk mencari kader-kader yang mempunyai animo berorganisasi walaupun animo itu sendiri sedang mengalami pasang surut bak air laut.
Regenerasi sekarang hanya sibuk dengan hal-hal yang tidak pernah menguntungkan bagi mereka, apa lagi orang yang ada di sekelilingnya. Ngerumpi, nongkrong, sejuta (seolah-olah jual tampang) serta turnamen sorak-menyorak di tempat keramaian kampus merupakan suatu hal yang trend di kalangan mahasiswa sekarang tak hanya cucu Adam tapi, juga telah menyebar sampai ke cucu Hawa sekalipun. Tanpa rasa malu, mereka asyik dengan pertandingan mulut yang di lakoni di tengah-tengah keramaian aktifitas kampus.
Tak ada lagi respons terhadap apa yang bakal terjadi pada mereka nantinya. Tak ada juga signal-signal untuk arah perubahan organisasi kampus. Organisasi sibuk dengan roda keorganisasiannya yang kehilangan kaderisasi, sementara kader itu sendiri juga sibuk dengan aktifitas mubazirnya. Sungguh riskan memang, setelah melihat apa yang terjadi pada pergerakan mahasiswa kita akhir-akhir ini.
Bagaimana akan datang sebuah perubahan terhadap bangsa ini di saat mahasiswanya saja tak pernah lagi memperhatikan keadaan bangsanya apa lagi hal terkecil yang terjadi di tingkat kampus? Kampus ibarat sebuah miniatur dari sebuah bangsa atau negara, jadi di sini mahasiswa bukan hanya bisa tapi juga dituntut harus untuk belajar bagaimana mengatur dan memajukan sebuah negara dengan semestinya. Siapa lagi coy, kalau bukan kita para penerus bangsa ini!!?
Kecemasan bangsa akan terjadi di saat mahasiswa itu sendiri tidak bisa menunjukkan identitasnya sebagai agent of change dan seorang mahasiswa harapan bangsa. Sekarang, dengan melihat kondisi kita dan generasi yang ada, tak akan ada lagi agen-agen perubahan seperti dulu karena agen itu sendiri telah di ubah oleh masa dan perkembangan zamannya sendiri. Tak akan ada juga pemerintahan yang bakal terguling oleh aksi mahasiswa melainkan harga diri mahasiswa sendiri yang telah terguling setelah di nina bobokkan oleh tikus-tikus dan kucing-kucing kantor pemerintahan.
Mahasiswa yang berpikir instan akan membawa perubahan bangsa yang instan juga tanpa adanya pematangan sikap dan pola pikir yang mantap. Mahasiswa adalah penentu arah sebuah negara ke depan, tanpa mahasiswa yang di harapkan bangsa maka dapat di prediksi tak akan ada juga sebuah negara yang tahu arah tujuannya.
Suasana perpolitikan dan keorganisasian yang ada di kampus merupakan dinamika-dinamika dan wadah pencerahan bangsa bernaung kelak. Ketika sebuah wadah tak dapat lagi menampung pencerahan maka tak akan ada juga seberkas pelita kemajuan dan sinar bangsa ke depan. Generasi apa ini?? Mengapa tak ada lagi dinamika-dinamika yang seperti dulu?? Apa ini tanda-tanda kebobrokan kaderisasi?? Atau ini malah tanda-tanda kemelorotan bangsa kita esok harinya??
Siapa yang mau untuk bertanggung jawab terhadap nasib bangsa kita ke depan? Siapa juga yang akan mencarikan obat penawar kebobrokan ini? Apa mungkin pertanyaan tadi pernah muncul di benak pejabat kita? Kalau ada, mengapa keadaan generasi kita semakin memprihatinkan seperti ini? Apa penyebabnya? Atau kesalahan ini ada pada sistem dan cara kerjanya? Atau lagi, malah kutukan terhadap bangsa ini karena pernah di pimpin oleh seorang wanita?
Seharusnya seorang pencerah bangsa itu mampu menalarkan logika dan mensistematiskan pola pemikirannya yang pragmatis, jangan hanya ego individualisme saja yang selalu di kedepankan. Kalau tidak, akan dibawa ke mana sebuah organisasi tersebut, hanya di tingkat organisasi saja logika dan pola pikir mereka selalu kalah oleh ego mereka sendiri, bagaimana nanti kelak ketika mereka di percaya untuk menentukan nasib bangsa yang ada di tangan? Kemana lagi rakyat ini akan mengadu? Apa nasib rakyat mampu di selesaikan oleh mereka yang hanya ego dengan kekuasaan tanpa lagi memikirkan apakah dia mampu dalam bidang yang akan di embannya sebagai penyambung lidah rakyat?
Petarung logika seyogyanyalah harus mampu menunjukkan potensi dan bisa menggali kemampuan yang ada pada dirinya. Bagaimana mungkin tanpa potensi yang terlihat mampu menelurkan tingkat kreatifitas yang tinggi, apa lagi nantinya di harapkan dia dapat menjadi seorang pengkader yang mampu mengkader generasinya mendatang. Dengan kata lain, tak efisien sekiranya seseorang bisa jadi senior tanpa melalui proses pematangan kedewasaan berpikir dan pengayom terhadap kadernya terlebih dahulu.
Ketika kita pantau ke setiap organisasi yang ada di tataran elit keorganisasian intra kampus, dapat kita pahami bagaimana bobroknya kaderisasi. Dampak yang ada di depan kita adalah organisasi berjalan tidak sesuai dengan koridor yang ada. Ketika pengkadernya melimpahkan kepercayaan kepada si kader, di situ juga si kader mengambil kesempatan untuk melakukan sebuah pembalasan dendam organisasi kepada pengkadernya. Tidak adanya lagi curah pendapat dan saling tukar pikiran antara pengkader dengan kadernya sendiri yang mengakibatkan hengkangnya para pembesar-pembesar organisasi tersebut. Kenapa? Mungkin saja para pembesar tadi terkecil hati karena merasa tak di butuhkan lagi untuk organisasi yang di cintainya!!? Atau mungkin si pembesar mempercayai keorganisasian kepada kadernya, walaupun pematangan kaderisasinya belum melewati ambang batasnya!!? Atau lagi mungkin si pembesar lepas tangan karena beberapa hal yang di rasanya baik untuk organisasinya agar tidak terjadi intervensi dan diskriminatif terhadap kepengurusan keorganisasian tersebut!!?
Tapi, apapun itu bukanlah alasan untuk meninggalkan organisasi. Kita juga sama-sama tahu bahwa tahap kristalisasi dalam keorganisasian pernah di laluinya. Beberapa tahap keorganisasian mulai dari orientasi (sebuah tahap perkenal terhadap organisasi yang akan di lakoni), kaderisasi (sebuah tahap penggodokan kader-kader muda yang akan di bina dan di beri pemahaman tentang keorganisasian agar lebih mantap), kristalisasi (sebuah tahap puncak atau akhir dimana perkenalan dan penggodokan tadi jadi matang serta mampu bersaing dengan dunia luar setelah benar-benar lepas dari keorganisasiannya serta mampu berdikari dan mandiri). Tahapan-tahapan tersebut yang akan di jalani oleh si kader supaya visi dan misi organisasipun tertanam di dadanya ketika bersaing dengan dunia luar dengan membawa jiwa seorang organisatoris. Apabila salah satu dari tahapan ini tidak ada pematangan maka, kederisasipun akan bobrok seperti sekarang yang banyak terjadi dengan organisasi-organisasi yang ada.
Apalah artinya kalau organisasi mempunyai kader-kader yang tak pernah matang, walau matang sekalipun tapi tetap saja matang dalam proses yang instant. Jangankan proses kaderisasi, sekedar makan mie saja kita lebih cenderung untuk memasak dalam tahap prosesinya karena lebih sedap daripada hanya dengan air panas (secara instant). Pematangan ini bukan hanya dalam sebuah prosesnya saja tapi, juga segala aspek seperti pematangan sikap, pemikiran, dan juga pematangan kreatifitas. Sorotan-sorotan seperti ini sebenarnya telah menjadi pemikiran sebagian kalangan elit kampus tapi, entah kenapa masih tetap saja belum usai.
Apakah ini cara elit-elit kampus untuk mematikan kreatifitasnya?? Atau organisasi kita sedang di racuni melalui sistem-sistem yang ada?? Wallahu a’lam. Siapa yang tahu? Yang jelas ini adalah merupakan agenda tiap bulan pengurus di tiap-tiap organisasi dan bahkan agenda untuk tiap hari pejabat-pejabat pengurus di masing-masing organisasi malah. Jangan pernah salahkan kader yang bobrok tapi, salahkan siapa yang mengkadernya? Karena “hukum keorganisasian” selalu berlaku : “Sasalah-salah junior, salah juo senior. Saengak-engak junior, engak juo senior. Apolai sapakak-pakak junior, pasti labiah pakak senior”.
Tapi, setelah melalui beberapa masa dan regenerasi maka “hukum” itu telah mengalami pergeseran makna karena ungkapan-ungkapan itu sudah menjadi senjata pamungkas junior untuk ngeles dari setiap kesalahan yang diperbuatnya. Kita semua menyakini bahwa setiap pengkader yang baik tidak akan mengkader dengan hal-hal yang buruk tapi, kenapa setiap kesalahan yang diperbuat selalu saja di mentahkan kembali kepada seniornya? Apakah penerimaan dalam proses pengkaderan yang salah atau malah sistematika pengakaderannya yang salah? Padahal setiap pengkader selalu memberikan hal yang terbaik kan buat bawahannya?
Kita tidak dapat memvonis siapa yang salah dan benar tapi, kita pertanyakan saja pada individu kita masing-masing. Apa kita matang dalam proses pengkaderan atau malah setelah di kader kita tidak layak dalam membina kader kita sendiri? Atau lagi kita harus mencari bagaimana seharusnya di kader dan ketika mengkader? Banyak hal yang harus kita pelajari bersama. Banyak hal juga yang mesti kita kaji ulang tentang bagaimana memformulasikan sistem dan proses kaderisasi ini. Dan yang lebih utama, jangan pernah mengedepankan ego individu dalam berorganisasi melainkan kita ke depankan dulu ego organisasi karena itu merupakan wadah dalam mengembangkan potensi dan pembentukan sikap kedewasaan yang ada pada diri kita sendiri.