Semua kesenangan dunia telah di rampas oleh cinta,
Cinta seorang wanita
Yang memperdaya tidak hanya hati seorang petarung logika
Tapi juga seorang petarung cinta sekalipun
Apa ini???
Dan mengapa ini terjadi???
Terjadi di saat petarung ingin menyelesaikan pertarungannya!!!!
Begitu banyak musuh yang ingin dia hadang sendiri
Di saat dirinya ingin mengalahkan
Di saat itu juga dia di tinggal pergi oleh orang yang di cintainya
Bukan hanya Samson saja yang di tipu oleh Delila
Tapi juga dirinya… diriku… dan juga diri para Adam yang tertipu oleh kelembutan kaum Hawa
Mengapa semua mata di ciptakan untuk melihat kemolekan paras dan ayunya???
Mengapa tidak ketika kebenaran hati datang saja yang ia lihat???
Atau ketika kekuatan cinta pada dirinya yang terlihat???
Aku tak pernah bisa lagi mengerti akan kemunafikan mata yang bodoh ini!!?
Begitu banyak pertanyaan yang selalu bergelut di hatiku
Dan begitu banyak juga jawaban-jawaban naif berkecamuk di hati ini!!?
Sehingga jawaban-jawaban itu tak lagi ada keterkaitannya
Kegilaan apa juga ini???
Kenapa aku seperti caleg-caleg yang haus kekuasaan???
Yang ketika kalah dalam pencontrengan asmaranya
Jadi tak rasional lagi dalam berpikir
Tak ada lagi sekarang kefokusanku dalam berpikir menurut logikaku sendiri
Semua telah musnah…
Musnah di telan gelombang senyumannya
Tapi pernah terbersit di pikiranku,
Apakah dia juga kehilanganku setelah aku memutuskan untuk mematikan hati ini terhadap dirinya dan orang lain??
Sengaja aku lakukan semua ini karena aku mencintainya melebihi ketulusanku mencintai diriku sendiri
Semua yang kulalui bersamanya, telah ku abadi kan dalam kenangan hati
Walaupun kebersamaan itu hanya beberapa kejap saja
Namun itu telah lebih dari cukup untukku bertahan hidup di dunia yang penuh dengan cinta-cinta yang hampa
Kehampaan yang begitu terasa di relung-relung kehidupanku
Kini jadi spirit kesuksesan bagiku untuk menunjukkan betapa tegarnya hari-hari yang ku lalui tanpa wanita itu di sampingku
Tak bisa juga ku dustai,
Betapa berartinya dirimu di kehidupanku
Sekarang… saat ini… dan sampai kapanpun…
Tapi, kenapa kau pergi meninggalkan aku yang gelap di dalam lorong cintamu???
Tak ada pelita yang terselipkan di hati ini ketika redupnya
Tak ada juga air yang tersirami di saat cintaku gersang
Dulu pernah,,,
Tapi sekarang kau renggut kembali
Kenapa antara logika dan cinta tak pernah bersatu???
Logika selalu saja di kalahkan dan di persalahkan ketika ia mulai berperang!!?
Cinta selalu tertawa ketika logika tercabik-cabik
Betapa bodoh orang yang mendewakan logika
Karena kebenaran selalu berpihak kepada orang yang mentuhankan cinta
Tapi, kini apa ada cinta yang suci itu???
Ketika logika berbicara, maka ia akan berkata :
“tak ada cinta yang suci, karena kesuciannya kini telah di permainkan para penikmatnya, bukankah kesuciannya datang dari hati yang terdalam tapi, kenapa
ketika kesucian itu datang tulus dari hati seseorang tidak memahami kehadirannya!!? Dan kenapa malah memuntahkannya lagi!!?”
Tak bisa ku memahami ketika dia tak pernah memberi pemahaman padaku
Tak pernah kumengerti di saat dia tak pernah memberi pengertian padaku
Aku seperti orang buta yang mencari-cari dimana kebenaran cintanya
Kebenaran cintanya yang tak pernah dia ungkapkan
Kepahaman yang dia beri selama ini, aku rasa kurang dari nalarku
Begitu sedikit, sehingga masih awam untukku mengerti kondisinya
Ah… sudahlah tak ada gunanya untukku terus seperti ini
Toh, kehidupanku juga terus berjalan dan akan aku jalani
Dengan ataupun tanpa dirinya…
Kembali ke habitat dan menjalani kehidupan semestinya adalah satu-satunya tujuanku untuk saat ini
Dan aku anggap saja ini merupakan suatu konsekuensi menjalani hidup di dunia yang penuh teka-teki manusia yang tak mengerti apa itu permainan hidup???
Tak selamanya kita mengerti dengan perjalanan cinta
Tak selamanya juga kita tahu dengan permainan cinta
Kita tak bisa menebak keaslian cinta wanita
Dan kita juga tak bisa melogikakan cinta yang tak pernah mempunyai logika
Ada betulnya juga kata sebagian besar pemain cinta
Bahwa :
“cinta tak mesti memiliki” dan “cinta itu hanya memberi dan tak harap untuk kembali”
Bagaikan hidup, yang harus memberi sebanyak-banyaknya dan bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya
Karena setiap orang boleh saja sama dalam segala hal tapi bukan untuk urusan cinta.