Minggu, 13 Maret 2011

Rindu

Biasanya, para pencinta selalu mengemas rindu mereka. Pencinta untuk apa dan siapa saja, rindu yang bagaimana saja. Kerinduan, adalah sebuah harta milik kita yang sederhana, namun artinya tak lebih sempit dari luas samudera. Kerap membawa keinginan tak sekadar beredar di khayalan. Namun kekuatan tekad untuk menjadikannya nyata. Mengemas rindu, menjaga cinta.
Kerinduanku, adalah akan hadirnya cinta. Seperti milik nabi Ibrahim, saat akan menyembelih anaknya. Seperti milik Ismail, yang mempersembahkannya hanya untuk Tuhannya. Seperti milik Yusuf, yang tak tergoyahkan oleh Zulaikha. Seperti milik mereka, dan mereka yang lain yang juga pencinta.
Kerinduanku, adalah akan kekalnya cinta. Tak seperti mereka yang menjualnya lantas mengatakan bahwa itu adalah pengorbanan. Tak seperti mereka yang menjadikannya harta namun diam-diam merusaknya. Tak seperti mereka yang menginginkannya hadir namun tak peduli lantas meninggalkannya.
Biasanya, para pencinta tak pernah lupa mengemas rindu mereka. Sebab pintu hati selalu terbuka kapan saja tanpa bisa dipegang kuncinya. Karena kita tak kuasa. Sebab bila tidak, ia akan mudah tergantikan begitu saja. Tanpa tahu alasannya.
Sebagai manusia, seringkali kita korbankan waktu dan tenaga sia-sia, untuk mengemas rindu yang tak ketahuan adanya, yang bukan rindu sebenarnya. Kerinduan itu disimpan baik-baik dalam hati, tak ingin ia lekas pergi. Sebab bila kerinduan itu hilang, maka cinta yang selalu diharap itu tak pula datang.
Kerinduan akan tahta, mengantarkan kita untuk menghamba pada dunia. Tak pernah puas, walau sudah melibas semua yang tertindas.
Kerinduan akan harta, menyebabkan kita buta. Tak peduli mengambil punya siapa, yang penting diri tak menderita.
Kerinduan akan cinta manusia, membawakan sengsara. Sebab yang ada hanya kecewa, kalau cinta tak dibalas cinta. Bagaimana dengan milik kita?
Kalau setiap harinya selalu kita memuja yang fana. Tanpa menyadari bahwa Ia ada, melihat apa yang tak kita lihat, mengetahui apa yang tersembunyi, menguasai seluruh isi hati.
Kalau setiap saat kita tak pernah lalai mempersembahkan cinta, bukan untuk-Nya, melainkan untuk sesuatu yang tak bisa memberikan apa-apa. Juga tak punya kuasa.
Kalau hidup ini kita persembahkan untuk melayani mereka yang tak bisa memberi. Kalau rindu itu kita persembahkan untuk sesuatu yang hanya bisa menyakiti. Lalu, untuk siapa kita mengemas rindu? Pernahkah kita mengemas rindu ini untuk-Nya? Apakah kita selalu menjaga cinta ini agar selalu berlabuh pada-Nya? Sedangkan hati ini selalu penuh akan sesuatu, entah apa itu. Lantas, rindu itu untuk siapa?

Laut dan Langit

Dahulu kala, langit dan laut saling jatuh cinta. Mereka sama-sama saling menyukai satu sama lain. Saking sukanya laut terhadap langit, warna laut terlukis di langit, saking sukanya langit terhadap laut, warna langit pun menyerupai laut.
Setiap senja datang, si laut dengan lembut sekali membisikkan "aku cinta padamu" ke telinga langit. Setiap langit mendengar bisikan penuh cinta dari si laut, langit tidak menjawab apa-apa dan hanya tersipu malu sehingga wajahnya semburat kemerahan.

Suatu hari, datang si awan. Begitu melihat kecantikan si langit, awan seketika itu juga jatuh hati terhadap langit. Tentu saja langit hanya mencintai laut, setiap hari hanya melihat laut saja. Awan sedih tapi tak putus asa, mencari cara dan akhirnya menemukan akal bulus.
Awan mengembangkan dirinya sebesar mungkin dan menyusup ke tengah-tengah  langit dan laut, menghalangi pandangan langit dan laut terhadap satu sama lain.

Laut merasa marah karena tidak bisa melihat langit, sehingga dengan gelombangnya, laut berusaha menyibak awan yang mengganggu pandangannya.
Tapi tentu saja tidak berhasil. Lalu datanglah angin, yang sejak dulu mengetahui hubungan laut dan langit merasa harus membantu mereka menyingkirkan awan yang mengganggu.
Dengan tiupan keras dan kuat, angin meniup awan. Awan terpecah menjadi banyak bagian, sehingga tidak bisa lagi melihat langit dengan jelas, tidak bisa lagi berusaha mengungkapkan perasaan terhadap langit.
Sehingga ketika merasa tersiksa dengan perasaan cinta terhadap langit, awan menangis sedih. Hingga sekarang, kasih antara langit dan laut tidak terpisahkan.
Kamu juga bisa melihat di mana mereka menjalin kasih. Setiap ke laut, di mana ada satu garis antara laut dan langit, di situlah mereka sedang bersatu.

Seribu Burung Kertas

Hatiku tidak pernah menyesal.
Semuanya hanya untukmu.
Seribu burung kertas…
Seribu ketulusan hatiku…
Beterbangan di dalam angin.


Menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit.
Melewati sungai perak.
Apakah aku bisa bertemu denganmu?
Tidak takut berapapun jauhnya


Hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu.
Masa lalu seperti asap, hilang dan tak kan kembali.
Menambah kerinduan di hatiku.
Bagaimanapun dicari.
Jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah.

Aku Ada Untukmu

Hadiah terbaik bagiku
Bukan gantungan bintang dilangit rajutanku
Bukan juga menariknya anggur merahmu
Diantara sajian intan ditempat tak berbayang
Berlarilah kelautan cintaku
Dekat sebuah kayu bersilang disana
Dekat diatas rumput yang memerah
Direndaman jerami dijengkalku
Sudah... aku sudah merangkainya untukmu
Sudah… juga menangis untukmu
Diamlah dekatku...
karena kau tenang disini...
Bijaklah disaat kebodohan menjadi kegembiraanmu
Inilah saatnya tepat,
sebab malam tak bertanda
Juga siangnya tak berpamit
Berjalanlah terus...
bukannya sendiri
Kasihku memegangmu...
Sampai untaian terakhir dipinggiran waktu
Aku ada untukmu

Tangisan Hati yang Remuk

Apa yang terjadi padaku kini???
Ini tak biasanya terjadi kan!!?
Tapi, kenapa ini harus terjadi!!?
Mengapa hatiku tak mati saja untuk dia dan gadis-gadis yang lainnya!!?

Ketidakberdayaan ini melumpuhkan sebagian jiwa dan hidupku
Di satu sisi aku selalu ingin ada di sampingmu sambil melukis keindahan senyuman di bibirmu
Dan di satu sisi lainnya aku tak ingin menyusahkanmu dengan keegoisanku
Nah, setelah itu apa yang terjadi???
Aku sendiri tak mengerti apa yang harus aku lakukan lagi
Apa selalu ngotot untuk memenangkan hatimu?
Atau aku harus menempuh hidupku sendiri tanpa kehadiranmu di sini???

Semua kehidupan ini harus aku tempuh juga akhirnya
Tapi, aku sendiri tak sanggup untuk menjalaninya sendiri tanpa tulang punggung itu, tempat dimana aku bersandar ketika kelelahan melanda
Segala kemungkinan dapat saja terjadi
Kemungkinan kegagalan dalam menempuh kehidupan
Atau kemungkinan aku bakal menang dalam pertarungan cintanya

Mengapa juga aku tak dapat lagi mensinergikan antara logika dan hati ini?
Apa keduanya kini telah saling membelakangi diriku?
Setiap melihat dan merasakan kehadirannya, aku tak bisa pungkiri betapa berarti dirinya untukku hidup
Dan setiap kali dia tak ada di hadapanku, aku sendiri seperti seorang yang tak pantas untuk mendapatkan hatinya
Aku terus saja lari seperti anjing yang ketakutan untuk menanam bibit cintanya lagi di hati ini

Kehilanganmu, seperti memusnahkan kehidupanku sendiri
Melepaskanmu, ibarat menutup rapat kembali cinta yang ada

Mengapa seperti ini???
Mengapa hanya sekejap mencintaimu
Dan seumur hidupku untuk melupakanmu
Mengapa juga dalam semenit menyayangimu
Dan berpuluh ribu juta masa untukku tersiksa tanpamu

Hiasan-hiasan malamku tak pernah lagi kau hiasi dengan senyuman
Lukisan-lukisan wajahmu tak akan lagi ada di hari-hariku
Album memori yang dulu kita ukir,
Kini hanya bisa terkubur di jurang hati tanpa ada yang akan menyelamatkannya
Terbuang… dan akan terus terbuang seperti sampah-sampah yang berserakan

Permainan Cinta Semu

Semua kesenangan dunia telah di rampas oleh cinta,
Cinta seorang wanita
Yang memperdaya tidak hanya hati seorang petarung logika
Tapi juga seorang petarung cinta sekalipun

Apa ini???
Dan mengapa ini terjadi???
Terjadi di saat petarung ingin menyelesaikan pertarungannya!!!!
Begitu banyak musuh yang ingin dia hadang sendiri

Di saat dirinya ingin mengalahkan
Di saat itu juga dia di tinggal pergi oleh orang yang di cintainya
Bukan hanya Samson saja yang di tipu oleh Delila
Tapi juga dirinya… diriku… dan juga diri para Adam yang tertipu oleh kelembutan kaum Hawa

Mengapa semua mata di ciptakan untuk melihat kemolekan paras dan ayunya???
Mengapa tidak ketika kebenaran hati datang saja yang ia lihat???
Atau ketika kekuatan cinta pada dirinya yang terlihat???
Aku tak pernah bisa lagi mengerti akan kemunafikan mata yang bodoh ini!!?

Begitu banyak pertanyaan yang selalu bergelut di hatiku
Dan begitu banyak juga jawaban-jawaban naif berkecamuk di hati ini!!?
Sehingga jawaban-jawaban itu tak lagi ada keterkaitannya

Kegilaan apa juga ini???
Kenapa aku seperti caleg-caleg yang haus kekuasaan???
Yang ketika kalah dalam pencontrengan asmaranya
Jadi tak rasional lagi dalam berpikir

Tak ada lagi sekarang kefokusanku dalam berpikir menurut logikaku sendiri
Semua telah musnah…
Musnah di telan gelombang senyumannya

Tapi pernah terbersit di pikiranku,
Apakah dia juga kehilanganku setelah aku memutuskan untuk mematikan hati ini terhadap dirinya dan orang lain??
Sengaja aku lakukan semua ini karena aku mencintainya melebihi ketulusanku mencintai diriku sendiri
Semua yang kulalui bersamanya, telah ku abadi kan dalam kenangan hati
Walaupun kebersamaan itu hanya beberapa kejap saja
Namun itu telah lebih dari cukup untukku bertahan hidup di dunia yang penuh dengan cinta-cinta yang hampa

Kehampaan yang begitu terasa di relung-relung kehidupanku
Kini jadi spirit kesuksesan bagiku untuk menunjukkan betapa tegarnya hari-hari yang ku lalui tanpa wanita itu di sampingku
Tak bisa juga ku dustai,
Betapa berartinya dirimu di kehidupanku
Sekarang… saat ini… dan sampai kapanpun…
Tapi, kenapa kau pergi meninggalkan aku yang gelap di dalam lorong cintamu???
Tak ada pelita yang terselipkan di hati ini ketika redupnya
Tak ada juga air yang tersirami di saat cintaku gersang
Dulu pernah,,,
Tapi sekarang kau renggut kembali

Kenapa antara logika dan cinta tak pernah bersatu???
Logika selalu saja di kalahkan dan di persalahkan ketika ia mulai berperang!!?
Cinta selalu tertawa ketika logika tercabik-cabik
Betapa bodoh orang yang mendewakan logika
Karena kebenaran selalu berpihak kepada orang yang mentuhankan cinta
Tapi, kini apa ada cinta yang suci itu???
Ketika logika berbicara, maka ia akan berkata :
“tak ada cinta yang suci, karena kesuciannya kini telah di permainkan para penikmatnya, bukankah kesuciannya datang dari hati yang terdalam tapi, kenapa
ketika kesucian itu datang tulus dari hati seseorang tidak memahami kehadirannya!!? Dan kenapa malah memuntahkannya lagi!!?”

Tak bisa ku memahami ketika dia tak pernah memberi pemahaman padaku
Tak pernah kumengerti di saat dia tak pernah memberi pengertian padaku
Aku seperti orang buta yang mencari-cari dimana kebenaran cintanya
Kebenaran cintanya yang tak pernah dia ungkapkan
Kepahaman yang dia beri selama ini, aku rasa kurang dari nalarku
Begitu sedikit, sehingga masih awam untukku mengerti kondisinya

Ah… sudahlah tak ada gunanya untukku terus seperti ini
Toh, kehidupanku juga terus berjalan dan akan aku jalani
Dengan ataupun tanpa dirinya…
Kembali ke habitat dan menjalani kehidupan semestinya adalah satu-satunya tujuanku untuk saat ini
Dan aku anggap saja ini merupakan suatu konsekuensi menjalani hidup di dunia yang penuh teka-teki manusia yang tak mengerti apa itu permainan hidup???

Tak selamanya kita mengerti dengan perjalanan cinta
Tak selamanya juga kita tahu dengan permainan cinta
Kita tak bisa menebak keaslian cinta wanita
Dan kita juga tak bisa melogikakan cinta yang tak pernah mempunyai logika
Ada betulnya juga kata sebagian besar pemain cinta
Bahwa :
“cinta tak mesti memiliki” dan “cinta itu hanya memberi dan tak harap untuk kembali”
Bagaikan hidup, yang harus memberi sebanyak-banyaknya dan bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya
Karena setiap orang boleh saja sama dalam segala hal tapi bukan untuk urusan cinta.